KALTENG.CO-Pasar energi global kembali membara. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak signifikan pada sesi perdagangan Kamis (11/6/2026).
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh pengumuman dramatis dari pihak Iran yang memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, sebuah jalur pipa nadi bagi pasokan minyak mentah dunia. Langkah ekstrem ini diambil Teheran menyusul rentetan serangan militer yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) ke sejumlah wilayah di dalam negeri Iran.
Saling klaim dan ketegangan di salah satu jalur laut paling strategis di dunia ini langsung direspons dengan kepanikan pasar, yang khawatir akan terjadinya kemacetan pasokan energi dalam jangka panjang.
Minyak WTI dan Brent Kompak Merangkak Naik
Berdasarkan data komoditas terbaru dari Investing, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman AS langsung melesat sebesar 2,26 persen, membuat harganya kini bertengger di level USD 92,06 per barel.
Tren kenaikan ini juga diikuti oleh minyak mentah standar internasional, di mana kontrak berjangka Brent merangkak naik sebesar 0,09 persen hingga menyentuh angka USD 94,90 per barel. Peningkatan ini mencerminkan tingginya sensitivitas sektor hulu energi terhadap stabilitas politik di Timur Tengah.
Iran Tutup Jalur Tanker, AS Beri Bantahan
Melansir laporan dari Reuters, Komando militer gabungan Iran mengeluarkan pernyataan tegas bahwa Selat Hormuz kini resmi dinyatakan tertutup total, baik bagi kapal tanker pengangkut minyak maupun kapal komersial lainnya. Media pemerintah Iran bahkan mengklaim adanya operasi penargetan yang diarahkan kepada kapal militer AS di sekitar perairan tersebut.
Namun, situasi di lapangan masih dipenuhi simpang siur informasi. Di pihak lain, militer Amerika Serikat memberikan laporan yang bertolak belakang. Pihak Pentagon menyatakan bahwa aktivitas keluar-masuk kapal komersial di Selat Hormuz sejauh ini masih berjalan normal.
AS juga membantah klaim Iran dengan menegaskan bahwa tidak ada satu pun kapal perang milik mereka yang terkena serangan atau mengalami kerusakan.
Gencatan Senjata Kandas, Ancaman Perang Skala Penuh di Depan Mata
Konfrontasi langsung antara AS dan Iran yang kembali pecah sejak Rabu kemarin otomatis membuyarkan harapan perdamaian. Serangan udara ini memicu kekhawatiran global akan pecahnya perang dalam skala penuh, sekaligus mengakhiri kesepakatan gencatan senjata yang sebenarnya baru saja disetujui pada awal April lalu.
Sejak konflik bersenjata ini pertama kali meletus pada 28 Februari, dampaknya terhadap ketahanan energi negara-negara barat sudah mulai terasa nyata. Amerika Serikat, yang memegang status sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia, harus memutar otak untuk menutupi kelangkaan pasokan global akibat blokade di jalur-jalur energi vital tersebut.
Cadangan Minyak Bumi AS Merosot Drastis
Untuk mengisi kekosongan suplai pasar yang terhambat, AS terpaksa menguras tangki penyimpanan domestik mereka dalam jumlah yang masif. Tercatat, cadangan minyak mentah strategis milik AS telah berkurang sebanyak 79 juta barel sejak awal konflik.
Kondisi ini diperparah oleh rilis data terbaru dari International Energy Agency (IEA). Dalam laporan periodik teranyarnya, IEA menyebutkan bahwa cadangan minyak mentah komersial milik AS kembali mengalami penurunan drastis sebesar 7,2 juta barel dalam kurun waktu singkat.
Jika konflik di Selat Hormuz terus berlarut tanpa ada solusi diplomasi, para analis memprediksi harga minyak mentah global bukan tidak mungkin akan segera menembus angka psikologis USD 100 per barel dalam beberapa pekan ke depan. (*/tur)